Kabarbanuakitacom, Muara Teweh – Pilu yang dirasakan seorang bocah laki-laki baru berusia 7 tahun saat menyaksikan kebun karet yang ditanam oleh mendiang ayahnya kini digarap oleh perusahaan pertambangan batubara PT NPR tanpa adanya ganti rugi.

Bocah tersebut, Eno ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika mengetahui kebun karet milik peninggalan orang tuanya telah digusur.

Eno mengeluarkan airmata nya sambil mengenang kebun yang pernah ia mengikuti almarhum ayahnya Andi Irawan
saat menanam pohon karet.

Ia bercerita, “Kebun ini ditanam sama ayah saya. Sekarang sudah habis hanya tinggal kenangan peninggalan orangtua saya,” Ungkap Eno Sabtu (23/05/2026).

Diketahui, Eno saat ini menjadi anak yatim setelah ayahnya meninggal dunia sekitar setahun lalu.

Ia sedih duka kehilangan orang tua yang belum sepenuhnya pulih kini kembali bertambah ketika lahan yang menjadi sumber penghidupan sekaligus kenangan bersama sang ayahnya yang digarap oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Keluarga Eno disebut menjadi salah satu dari ratusan warga pemilik ladang berpindah yang mengaku lahannya digarap oleh PT NPR tanpa izin dan tanpa adanya penyelesaian ganti rugi. Kondisi tersebut dinilai warga semakin memperberat kehidupan masyarakat adat yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil berladang.

Anak berusia 7 tahun itu berharap penuh kepada pemerintah agar bisa sedikit mendengarkan keluhannya terhadap apa yang mereka rasakan di desa Karendan.

“Kemana kami menuntut, pemerintah bantu kami,” Harapnya.

(Hertosi/Kabar Banua Kita)